Pejuang PJKA - Pulang Jumat Kembali Ahad - Kawula Muda | Inspirasi, Cinta dan Gejolak Kawula Muda

Kawula Muda | Inspirasi, Cinta dan Gejolak Kawula Muda: Pejuang PJKA - Pulang Jumat Kembali Ahad

Pejuang PJKA - Pulang Jumat Kembali Ahad

www.kawula-muda.com
Kereta Api
Pejuang PJKA, begitu mereka menyebutnya "Pulang Jumat Kembali Ahad". PJKA sendiri sudah bisa disebut komunitas atau grombolan yang melakukan perjalanan pulang pergi dari kampung asal ke kota Jakarta rutin. Ada yang 1 bulan sekali, 2 minggu sekali bahkan ada yang 1 minggu sekali. Para pejuang PJKA biasanya menggunakan moda transportasi kereta api, karena bagi mereka kereta api lebih dapat dipastikan jam sampai ke tempat tujuan. Berikut adalah hasil diskusi dengan beberapa pejuang PJKA, kenapa mereka lebih memilih menjadi Pejuang PJKA daripada menetap di kota Jakarta atau Kota-kota penyokong jakarta.

1. Gagal "move on" dari kampung halaman.

Siapa sih yang tidak bisa move on dari tanah kelahiran atau kampung halaman? Di kampung ditawarkan kenyamanan, ramah senyum penghuni dusun, sanak dan keluarga. Sedangkam di kota besar seperti Jakarta. Kota yang bak hutan rimba dengan segala masalahnya. Masyarakat bercampur dari berbagai suku dan daerah. Belum lagi mereka minim sekali memiliki sanak saudara yang tingfal dijakarta. Hal ini yang membuat mereka selalu ingin menhunjungi kampung halaman di tiap week end tiba.


2. Penat dengan kepadatan Ibu Kota.

Macet, banjir dan segala macam persoalan di Ibu Kota menjadi dasar mereka butuh penyegaran. 


Stasiun Kereta Api

Bagi mereka melalukan perjalanan tiap jumat malam merupakan sarana refreshing atau piknik bagi para pejuang PJKA. Bertemu dengan sanak saudara di kampung merupakan obat lelah paling mujarab untuk mereka.

3. Kurang baiknya Pergaulan anak di Jakarta.

Bagi yamg sudah berkeluarga terutama mereka yang telah memiliki anak, pasti was-was dengan pergaulan anak di jakarta. Entah itu tawuran, miras dan narkoba merupakan hal yang ditakuti untuk orang tua yang memiliki anak yang tingfal atau bersekolah di jakarta. Mereka tidak ingin memiliki anak yang bergaul tidak baik. Beda halnya dengan pergaulan anak di kampung halaman. Secara tidak langsung sanak-saudara juga ikut mengawasi pergaulan anak-anak mereka. Jika di kota besar, mana mungkin tetangga akan memiliki rasa perhatian terhadap anak tetangga lainya. Memang ada beberapa, kumlahnya masih bisa dihitung.


4. Biaya hidup mahal

Sebenarnya saya sendiri kurang begitu setuju dengan istilah biaya hidup yang mahal, karena biaya hidup ditentukan dari gaya hidup mereka sendiri. Tapi menurut mereka dengan meninggalkan keluarga di kampung halaman lebih efisien dalam menekan pengeluaran keluarga. Entah perhitungannya dari mana hanya mereka yang dapat menjawabnya.


5. Tuntutan keluarga

Tercukupinya kebutuhan keluarga tiap hari merupakan kewajiban seorang kepala rumah tsngga. Konsekuensi yang sulit diterima adalah ketika bekerja di jakarta dan pindah mencari pekerjaan di kampung halaman adalah turun derastisnya pendapatan tiap bulanya. Hal tersebut yang membuat para perjuang PJKA rela tidur di kereta di tiap weekend. Karena memang ibu kota menawarkan pendapatan yang lebih besar jika dibanding dengan kampung halaman mereka masing-masing.

Demikianlah beberapa point yang dapat diambil dari para perjuang PJKA. Hak mereka untuk menetap atau menjadi pejuang PJKA. Salut dengan pengorbanan mereka dari mulai tua, muda bahkan beberapa wanita juga tergabung dalam komunitas pejuang PJKA. Dengan bertemunya mereka pada tiap weekend, mereka memiliki semboyan "Seko nyepur, dadi sedulur" dalam.bahasa jawa, "dari kereta, menjadi saudara". Tetap semangat untuk para pejuang PJKA.

Powered by Blogger.